Suatu hari aku jatuh cinta pada seseorang, yang seharusnya tak ku rasakan hal itu padanya. Karena ia adalah milik sahabatku. Terdengar aneh, dan terlihat jahat memang. Itulah mengapa hanya ku pendam rasa itu.
1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan berlalu. Terdengar kabar mereka tak lagi bersama. Entah harus merespon seperti apa, aku hanya bisa tersenyum tipis. Tanpa sadar, perasaan yang ku kubur tiba-tiba muncul ke permukaan. Keberadaannya yang semu kini menjadi nyata.
Ku pertaruhkan seluruh keberanianku dan mengatakannya pada sahabatku itu. Dia hanya tertawa dan memelukku, lalu membisikkan padaku "tidak apa-apa, aku sudah melupakannya".
2 minggu setelahnya, pria itu tiba-tiba menghubungiku. Menemui ku dengan senyum manisnya. Menyapa ku dengan suara uniknya. Kami tenggelam dalam keakraban dalam waktu sekejap.
Aku tahu, pasti sahabatku mengatakan semuanya padanya.
Kami jadi semakin dekat, dan dalam waktu singkat ia nyatakan perasaannya padaku. Aku terkejut, pikiran ku melayang jauh ke waktu silam, dimana ku fikir bersamanya hanyalah sebuah mimpi. Aku terdiam sejenak, lalu ku jawab semuanya dengan sebuah senyuman dan berkata " aku pun begitu". Kami pun terpaut dalam sebuah ikatan.
Waktu yang ku lewati bersamanya begitu menyenangkan. Ia membuatku merasa seperti orang yang merasa paling dicintai di dunia ini. Waktu yang manis, namun juga singkat.
Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dalam waktu 1 bulan, sikapnya tak lagi seperti dulu. Ia seperti orang asing yang tak pernah ku kenal sebelumnya.
Senyum manisnya berubah menjadi senyum sinis. Keramahannya tergantikan dengan ketidakpeduliannya. Aku tidak mengerti, apa yang terjadi?
Aku mencoba bertahan, tapi ia malah menekanku keluar dari hidupnya. Hingga akhirnya sebuah kalimat yang tak ku harapkan darinya, keluar dengan tegasnya. "Maaf, kita harus putus" sebuah kalimat yang sederhana namun mengubah kenangan indah menjadi sebuah luka.
Kebahagiaan ku yang termanis ternyata lebih singkat dari yang ku pikirkan. Tak ada yang bisa ku caci, apalagi ku benci. Yang paling menyedihkan adalah perasaanku tetap sama dan tulus padanya. Bahkan setelah semua itu berlalu, masih ada satu pertanyaan yang selalu menggangguku, "apa salahku?"
Tentangmu, bahagia singkatku.
Tentangmu, bahagia singkatku.